Tidak ada yang pernah benar-benar pergi;
Sepi yang memukul
jendela kamarmu dan tawa yang mengetuk di ujung sepatu.
Sejenak saja mereka mampir, menanyai jejakmu yang tak kunjung
berakhir.
Kau tegakkan kepalamu dan terus berjalan ke barat,
mengacuhkan semua yang terlewat.
Tidak ada lagi yang mengetuk jendela kamarmu sama halnya
seperti tidak ada lagi riuh tawa di ujung ketukan sepatu.
Sesekali kau berhenti,
sekedar berkabar pada batu yang tidak pernah mengkhianati rumput dan
jalan, Sesekali kau diam di beberapa cabang jalan; menimang-nimang arah
perjalanan.
Sesekali kau dengar namamu dipanggil samar.
Sesekali. Tetap saja kau tahu, Sepi tidak pernah beranjak
menertawai dan kau pun juga menyadari langkahmu tidak pernah bergerak sesenti.
Semarang, Desember 2018
Komentar
Posting Komentar