Aku benci begitu pulang kantor tidak kutemui siapapun di
kost. Aku merasa sepi dan selalu terbayang bayang kata Chairil, “Mampus kau
dikoyak sepi.” Iya sepi telah begitu sadis mengoyak-ku. Maka begitu aku masuk kamar, sengaja tak
kubiarkan lampuku nyala, aku langsung selonjoran sambil mendengarkan musik yang
juga tak kalah galau. Aku persis seperti sedang syuting video clip lagu
tergalau yang pernah ada. Dan aku benci, setiap hari harus seperti ini. Ketika weekend tiba dan kudapat pesan masuk
dari kawan yang akan berkunjung ke Semarang dan dia meminta ijin untuk tinggal
sementara di kosku aku luar biasa bahagia. Segera ku jawab.”Siap. akan aku
jemput di setasiun. Tinggallah selama kau mau.”Tapi paling lama hanya untuk
menghabiskan weekend saja. Ketika aku pulang kantor di hari sabtu. Kudapati ia
menungguku di kamar, aku merasa seperti ada seseorang yang benar benar
mengharapkanku pulang. Maka sengaja pula aku tidak ambil cuti saat kawanku kesini.
Namun, Ketika minggu siang dan aku harus mengantarnya ke setasiun, kudapati
diriku kembali didera sepi saat kembali ke kamar kos. Gelap, dingin dan sepi.
Tidak ada lagi suara tawa atau sekedar kata, “Kok lama sih? Laper banget aku.”
Aku jadi melankolis. Setengah dari jiwaku ada disini, setengahnya lagi aku
hanya ingin kembali ke rumah. Aku benci sepi.
Sore ini rutinitas galauku kembali dimulai.
Pulang kantor masuk kamar, lampu tidak ku nyalakan, memutar playlist lagu cinta
jaman dulu sambil selonjoran. Beberapa saat kemudian ada suara di belakang
kamarku dan ada cahaya lampu masuk melalui jendela kecil yang terhubung.
Jendela kecil ini berada di atas tempat tidurku sengaja di bikin mungkin karena
pemilik kos mengira kamar dibelakangku adalah kamar terakhir tapi nyatanya
dibikin juga kamar yang sekarang aku tempati sehingga membuat kamar kami saling
terhubung. Ada orang yang menempati kamar dibelakang kamarku. Pikirku. Sesaat
kemudian aku dengar suara playlist dimainkan. Lost star, adam Levine mengalun.
Aku tersenyum sinis,’bukan aku saja yang galau dan sepi.’’ Batinku. Tapi
kemudian aku dengar suara genjrengan gitar, ia mulai bernyanyi sambil memetik
gitarnya. Suaranya merdu. Aku kecilkan suara volume dari playlistku. Sengaja
biar kudengar suara nya. Laki-laki muda, mungkin usia sekitar 20 an ke atas.
Ada 3 lagu yang ia mainkan dan ia berhenti ketika adzan maghrib tiba. Nice guy! Pikirku. Selang beberapa lama
tiba-tiba lampu dimatikan. Kamarku gelap gulita. Aku kembali sendirian.
Hari berikutnya, dan berikutnya, aku seperti
memiliki teman baru. Ia selalu pulang sebelum aku dan selalu memainkan gitarnya
selama kurang lebih 1 jam dan akan berhenti saat adzan maghrib berkumandang.
Lagu yang dimainkan selalu lost star dan lagu mar0on five. Mungkin dia suka dengan
Adam Levine. Setelah maghrib dia akan mematikan lampu kemudian pergi. Aku sudah
tidur ketika ia kembali sebab seringkali aku terbangun di tengah malam karena
gerah. Aku tidak begitu suka mematikan lampu kamar saat tidur. Terasa lebih
gelap seperti tidak ada kehidupan. Aku lihat ada cahaya dikamarnya. Dia masih
belum tidur. Aku coba matikan lampu dan mendapati kamarku tetap terang sebab
cahaya lampu dari kamarnya. Aku suka.
Tiap pagi, alarm hp ku dan hp nya selalu
berdering di jam yang sama. Setelah sholat Shubuh dan aku hanya berbaringan
sambil menunggu waktu. Aku bisa mendengar dentingan sendok yang beradu pada
gelas sepertinya ia membuat teh atau kopi. Aku juga bisa mendengar batuk
kecilnya atau suara dentuman pintu yang ia tutup jika jam sudah pada angka
7.15. Mungkin dia berangkat kerja.
Aku tidak lagi merasa sendiri sekarang.
Mendengar dia Bernyanyi dan memainkan gitarnya adalah aktivitas sehari-hariku
setelah pulang kerja. Kadang tak sengaja aku ikut bernyanyi meskipun aku harus
menahan suaraku agar tidak terlalu keras, khawatir dia akan tahu bahwa aku
menikmati nyanyiannya. Kadang aku juga menerka-nerka dan sedikit berimajinasi
membayangkan wajahnya tapi selalu saja bayangan itu akan pupus begitu saja. Aku
tidak terlalu bisa membayangkan wajah laki-laki maka paling jauh aku hanya bisa
berimajinasi soal kerjaan atau statusnya, tidak pernah lebih dari itu. Kadang
juga aku membayangkan kita akan bertemu kemudian kita saling mengenal namun
selalu saja imaninasi itu terpatahkan, Mungkin dia sudah punya pacar. Bisa jadi
pacarnya ada di kota lain dan selalu menunggu kedatangannya atau mungkin
pacarnya adalah rekan kerjanya disini tetapi rasanya tidak mungkin juga setauku
kalau malam minggu atau hari minggu dia tetap dikamar asyik memainkan gitar
atau menonton TV.
Hujan Sore itu membuatku pulang agak telat
dari biasanya. Ku buka pintu kamar dan kurasakan air sudah menggenang di
lantai. Aku agak berjingkat menuju kasurku dan tepat seperti dugaanku, Kasur ku
basah. Hari ini benar-benar hari yang sangat indah bukan, gumamku. Aku segera
menuju ke rumah bapak kos yang tepat di depan Bangunan kos ku.
“Pak, Kamar saya bocor, Kasur sama lantainya basah semua,
saya cuapek lagi pak kalau disuruh bersih bersih saya nyerah.” Ungkapku. “Parah
mbak?” Tanya nya sambil membetulkan letak kacamata. “Banget pak,” Kemudian
bapak kos mengambil kunci.”Malam ini tidur di kamar belakang aja gimana? Besok
biar saya bersihkan?”Kata Bapak Kos. Seketika aku membuncah bahagia. Ditemani
hujan rintik aku tidur dikamar belakang tepat di samping kamarnya. Aku pun
sudah menyusun rencana jika nanti ku dengar dia datang aku akan keluar,
pura-pura memasukkan sepatu atau mengambil barang dikamarku tergantung
situasinya. Aku pun menunggu di dalam kamar sambil tiduran dan bernyanyi riang,
Entah kenapa aku tidak sabar melihat wajahnya.Jam sudah menunjukkan pukul 10
malam tapi aku masih tidak melihat tanda-tanda kehadirannya. Apa dia tidak
pulang ya? Apa dia mungkin saja pulang kampong menemui pacarnya. Ini kan
weekend, iya, mungkin saja begitu. Gerimis tiba-tiba datang sambil berusaha
memejamkan mata dan menutup segala kemungkinan tentang dia aku teringat dengan
sepatuku yang masih di luar, aku pun segera beranjak dan ku buka pintu kamarku.
Dia, mas-mas yang sepertinya penghuni kamar sebelahku menatapku heran. Aku
tercengang dia memakai kaos putih dilapisi jaket. Perawakannya Tinggi, badannya
agak gempal tapi cocok dengan tingginya, kulitnya coklat, hidungnya mancung dan
alisnya, alisnya sangat bagus. Hitam dan tebal. Aku terperangah melihatnya
begitu juga dengan dia. “Loh, kamar ini ada penghuni nya to?” aku menggeleng,
agak tergagap, “Nggak, ehm kamarku bocor jadi sama bapak kos diminta tidur
disini.” Jawabku. Dia mengangguk sambil tersenyum. “Oalah, salam kenal ya mbak
aku Ardi.” Sambil mengulurkan tangannya. “Dila.” Jawabku. “Ya sudah aku masuk
dulu ya, Dila. Selamat malam.” Katanya sambil tersenyum yang membuatku begitu
tersipu. Dia ganteng, ramah, suaranya bagus, kamar kita bersebelahan. Dan
sepertinya dia single. Eh tapi mungkin saja dia punya pacar tapi bisa jadi dia
single sih, iya dia pasti single. Aku berbunga-bunga, semoga besok ada kemajuan
lagi. Harapku.
Aku
terbangun karena suara berisik anak kecil yang ters-terusan menangis. Ku lihat
jam dilayar hapeku jam 10.00 Aku menguap lagi dan merenggangkan tubuhku diatas
Kasur. Anak siapa sih ini, padahal enak banget hawanya buat tidur seharian,
gumamku. Aku beranjak membuka pintu kamarku. “Kenapa mbak?kok anaknya nangis
mulu?” Mbak-mbak itu berbalik,”Iya mbak, gak tau kenapa tadi abis naik bis langsung
nangis gini.”Jawabnya sambil menenangkan anak itu yang bergelayut di
gendongannya. “Mual kali ya mbak, coba dibeliin tolak angin anak mungkin?” Kataku
sambil mendekat ke mbaknya. “Iya, Ayahnya masih keluar beli obat mbak.” Aku
mengangguk-angguk dan memilih untuk duduk di bangku panjang. Ardi datang agak
terburu-buru, aku segera beranjak sambil merapikan rambutku dan mengusap-usap
mataku, siapa tahu ada beleknya. Dia melewatiku begitu saja dan menuju mbak
itu. “Sayang, ini diminum dulu yuk Tolak anginnya. Nanti malam jalan-jalan sama
ayah sama bunda. Iya, udah jangan nangis, Ayah juga beli cokelat ini.” Kata
Ardi sambil membujuk anaknya. Aku melongo dan tanpa sadar aku berjalan ke
arahnya. “Loh ini ada tante juga nih, tante kebangun ya tadi garagara Aira,
maaf kan Aira ya tante. Udah jangan nangis, nanti jalan-jalan juga sama tante.”
Aku merasa duniaku menjadi hening seketika. Ada yang mencelos dihatiku.

Komentar
Posting Komentar