Di pelataran, berserakan guguran daun jambu.
Kita biasa
memungutinya, dulu.
Sehabis bercengkrama (mesra) yang tiada habisnya hingga mega menjalar sampai pucuk
langit dan bapakku mulai berkacak pinggang sambil memandangi kita yang masih
dirundung asmara. “Saya akan pulang pak, setelah membantu Mia membersihkan
halaman” Katamu sambil tersenyum dan membuatku merona.
Sekarang, guguran daun jambu sudah menumpuk di halaman.
Berserak dimainkan angin nakal.
Daun jambu kering berkejar-kejaran nampak
mesra.
Ibu datang membawa sapu dan cikrak. “Kita musti membersihkan halaman ini
sebersih-sebersihnya.”
“Percuma Bu, Angin akan merontokkan daun daun itu.”
Lalu, bapak datang, menyulutkan api pada dedaunan kering
sambil bilang, “Jangan kau kau kotori lagi halamanku. Gugur sudah lewat saatnya
berbuah.”
Harusnya sudah sejak lama aku menyadari itu.
Komentar
Posting Komentar