Langsung ke konten utama

Guguran Daun Jambu



Di pelataran, berserakan guguran daun jambu. 
Kita biasa memungutinya, dulu. 
Sehabis bercengkrama (mesra) yang tiada  habisnya hingga mega menjalar sampai pucuk langit dan bapakku mulai berkacak pinggang sambil memandangi kita yang masih dirundung asmara. “Saya akan pulang pak, setelah membantu Mia membersihkan halaman” Katamu sambil tersenyum dan membuatku merona.
Sekarang, guguran daun jambu sudah menumpuk di halaman. 
Berserak dimainkan angin nakal. 
Daun jambu kering berkejar-kejaran nampak mesra. 
Ibu datang membawa sapu dan cikrak. “Kita musti membersihkan halaman ini sebersih-sebersihnya.”
“Percuma Bu, Angin akan merontokkan daun daun itu.”
Lalu, bapak datang, menyulutkan api pada dedaunan kering sambil bilang, “Jangan kau kau kotori lagi halamanku. Gugur sudah lewat saatnya berbuah.”
Harusnya sudah sejak lama aku menyadari itu.

Komentar