Dika(u) 1
Aku kibaskan ekorku di siang yang semu dan mengerling manja.
Pun,
Patah-patah kata sengaja aku kirimkan dalam resah.
Kau begitu saja lewat tanpa suara.
Dika(u) 2
Waktu.
Jarak.
Rindu.
Diamlah disitu.
Biarkan aku yang mendaki menjumpaimu.
Selepas ku genggam waktu, lalu menghampiri jarak yang
diam-diam mendekat dan..
Rindu yang saling menepi pada sebuah janji ; Ku temui Engkau
sore nanti.
Dika(u) 3
Siang itu, ada angin yang mendesak masuk diantara
celah-celah kaca jendela di atas debu yang telah kutuliskan namamu dan namaku.
Dika(u) 4
Sementara angin asyik berbisik disela dedaunan,
Aku sibuk merapal mantra; meminta hujan kembali pulang
Sebab katamu kau akan datang memenuhi sebuah pertemuan yang telah lama kau janjikan
Dika(u) 5
Suatu kali kau pernah menafsirkanku sebagai pohon yang meranggas.
Lalu kau pun cabut bercak rindu di sekujur tubuhku dengan sebuah pertemuan di suatu malam.
Disaksikan rembulan, lilin, lentera dan kelap-kelip malam, kau bisikkan janji pada selembar daun terakhir.
Kini, aku ingin memintamu menafsirkanku sebagai pohon abadi yang tidak lagi rapuh dan ranggas tatkala dikepung deru rindu.
Tafsirkan aku sebagai pohon abadi yang akan tetap menanti kedatanganmu kembali.
Dika(u) 6
Aku sudah lelah,
Kau kunci pintumu terlalu rapat.
Tidak ada lagi celah yang bisa kumasuki, bahkan meskipun harus aku berjingkat, mengendap-endap.
Apa telah dengan sengaja kau buang kuncinya?
atau kau hanya berpura-pura lupa sembari mengharapkan ku untuk pergi- menjauh dari rumahmu yang terasa semakin asing bagiku . Atau,
Kau hanya ingin sendiri, Menyelami waktu, menghabiskan segala dukamu, meringkas segala perkakas masa lalu.
Lalu, setelah kau merasa tidak ada lagi kenangan yang tersisa, kau kan datang. Memintaku menempati rumahmu dan kau pun ijinkan aku menyimpan kuncinya. Hanya aku.
Benarkah begitu? (Sayangku)
Dika(u) 7
Aku Ingin memintamu datang
dan mencabut akar-akar rindu yang telah tertanam dalam nadiku
agar ketika hujan menari dalam rinainya, tiadal lagi namamu yang dansa dansi seketika menggulung selaksa benci.
Aku adalah pohon yang meranggas, Bersetia sekian lama, aku mati juga.
dan mencabut akar-akar rindu yang telah tertanam dalam nadiku
agar ketika hujan menari dalam rinainya, tiadal lagi namamu yang dansa dansi seketika menggulung selaksa benci.
Aku adalah pohon yang meranggas, Bersetia sekian lama, aku mati juga.
Bojonegoro-Semarang, 2016-2018

Komentar
Posting Komentar