Akhir-akhir ini ada banyak yang komen soal perbedaan pendapat antara mas gilang dan mbak kalis perihal perempuan, pernikahan, pendidikan dan statusnya dalam keluarga. Awalnya, saya juga malas menanggapi karena saya pikir pasti semua orang punya pandangannya sendiri jadi ndak perlu lah saling mencecar. Toh, klise nya balik lagi ke prinsip masing-masing. Seumpama nih, kamu cowok gak pengen dapet cewek yang di'atas'mu ya monggo. cewek pun begitu. Jadi ngapain ribet. hehe.
Sebagai seorang perempuan saya sendiri sih merasa kadang gak adil banget, kalo cowok bisa santai di usia 25 keatas. cewek? duh, usia 20 aja udah dikira saatnya menikah. waks. saya jujur paling gak suka kalau urusan pernikahan di kaitkan sama umur. Namanya menjalin suatu hubungan seumur hidup dengan 'orang asing' kan butuh pembekalan lahir dan batin, maka beruntunglah yang sudah nikah muda karena kemantapan hati mereka. Di syukuri aja...
Permasalahan yang lain sehubungan dengan perempuan dan pernikahan adalah pendidikan. Nah ini, kalau saya pribadi there is no related gitu antara pendidikan tinggi sama gak mau susah dan ngurus anak kalo udah nikah. Suer saya gak habis pikir. Mungkin ada kali ya fenomena gitu tapi mbok ya jangan disamaratakan kan kita belajar tingi-tinggi juga buat anak, karena ibu adalah madrasah yang utama. pun, misalnya ada cewek yang belajarnya gak sampai universitas bukan berarti dia gak mau ngejar pendidikan tinggi, every people kan have their own reason yang kita gak tahu alasannya dan lagipula belajar juga bisa dari mana saja bukan? sekedar info, ibuk saya lulusan SMP punya anak 3 cewek semua tapi soal mendidik anak ya jangan salah bagiku beliau oke punya. Jadi, pada intinya, yaa tergantung orangnya. (Klise banget ya).
Terakhir soal status dalam keluarga. Pemimpin dalam rumah tangga memang seorang suami, kalau mau bawa agama pun menurut islam juga gitu. Jangan tanya kenapa soalnya sudah ada hadistnya(Mohon googling sendiri) Manut sama suami sih harus wajib hukumnya. Surga para istri tuh suami, pokok kalau melayani suami dengan tulus ikhlas jaminannya surga deh. (Makanya itu tadi, menikahlah dengan orang yang kita cintai. Seumur hidup bro, melayani 'orang lain' yakin mau pilih suami asal?) Tetapi meskipun begitu, bukan berarti Istri cuman kudu diam, ndekam dirumah, nunggu suaminya pulang. ya, mungkin ada istri begini tapi tetep sebelumnya pasti sudah ada pembicaraan diantara mereka, jadi ya terserahlah. Kalau saya pribadi, ya rundingan dulu lah sama si calon ayah dari anak-anak. Kalau ia mau saya kerja, ya kerja berdua. Kalau seumpama dia melarang saya untuk bekerja, saya tanya dulu dia mau gak kasih duit saya lebih untuk perlengkapan saya yang lain diluar urusan rumah tangga. Kalo ia oke, Alhamdulillah, saya bisa nyante dirumah baca buku. hahahaha. Gampang ya? Gampanglah, saya belum merasakannya soalnya. Tapi lucu rasanya lihat ada yang pro kontra masalah beginian. Prinsipmu jadikanlah prinsipmu sendiri. Jangan memaksakan kehendak pada yang lain. btw, ini judulnya hebring banget, dadak isinya beginian doang. hahaha.
Komentar
Posting Komentar