Saya sering merasa hidup saya terlampau menyedihkan. Selalu memikirkan hal hal yang sebenarnya tidaklah penting untuk dipikirkan tapi saya dengan ikhlas dan tulus memikirkannya membuat saya nenjadi asing dan menjauh dari hingar bingar. Lama sudah saya merasakan hal ini tetapi selalu saja saya tutupi dengan senyum palsu yg merekah dibibir dan berpura pura biasa. Saya jadi iri dengan temanteman seusia saya yang begitu bisa enjoy menikmati segala suasana. Apa mereka pernah berpikiran seperti yang saya pikirkan?
Memasuki bulan Agustus, bulan yang disambut dengan kemeriahan agaknya membuat saya sakit kepala, umbul-umbul dipasang, lampu kelap kelip mulai dinyalakan pun lampu disko yang bikin ponakan saya paling kecil suka menjumputi bayangan lampu yang jatuh dibawah. lalu ada lomba-lomba yang umum macem balap karung dsb sampai lomba yang bikin saya ngelus dada sambil menggelengkan kepala, gendong istri sama main bola pake daster. Ketika semua menikmati dan tertawa ngakak saya cuma bisa melipir dan menjauh dari adegan adegan konyol yang dilakukan peserta. Tidak hentihentinya, hati saya bertanya, Ini fungsinya Apa? makna nya? Adakah yang bisa dijadikan pelajaran dari ini semua? lalu terdengar sorak cieeee berkepanjangan dan saya pun langsung mancal sepeda. Kadang saya merasa saya terlalu kaku dengan hal hal semacam ini, gak asik dan gak iso diajak seneng. But, saya cuma heran aja koorelasi antara gendong istri atau main bola pake daster dengan kemerdekaan Indonesia itu apa? I just don't get it,broh. Sumpah!
Selain itu Perayaan lainnya menyambut kemerdekaan adalah dipasangnya lampu warna warni yang buat kampung saya macem Kafe, rasarasanya asik tuh kalau buka warung kopi, lumayan lampunya gratisan dari kampung. daaan hampir semua kampung seperti itu. Rejeki banget buat pedagang lampu pokoknya.
Mengisi kemerdekaan dewasa ini sering hanya sebagai euforia semata. Bagus bagusan menghias kampung, adu meriahan malam agustusan antar kampung (kampungku nyewa elekton, kampungku nyewa moneta dan bla bla) atau masalah kulineran (Tumpeng di kampungku ada 20, dikampungku malah prasmanan all you can eat dan bla bla bla). Jadi, agustusan yang ditunggu cuma ininya dan saya gak habis pikir dengan cara mereka oun mereka gak habis pikir dengan cara saya. Maka, saya cukup mendengarkan elekton di dalam kamar dengan ditemani nyamuk nakal, sementara ciwi ciwi mulai dandan buat kumpul bareng sama pemudapemuda menikmati hidangan dan elektonan. Sedih saya, dengan apa yang selalu terintas dalam pikiran saya yang ruwet macem ini. Sungguh, saya hanya orang malang yang mendamba pada rasa senang.
Memasuki bulan Agustus, bulan yang disambut dengan kemeriahan agaknya membuat saya sakit kepala, umbul-umbul dipasang, lampu kelap kelip mulai dinyalakan pun lampu disko yang bikin ponakan saya paling kecil suka menjumputi bayangan lampu yang jatuh dibawah. lalu ada lomba-lomba yang umum macem balap karung dsb sampai lomba yang bikin saya ngelus dada sambil menggelengkan kepala, gendong istri sama main bola pake daster. Ketika semua menikmati dan tertawa ngakak saya cuma bisa melipir dan menjauh dari adegan adegan konyol yang dilakukan peserta. Tidak hentihentinya, hati saya bertanya, Ini fungsinya Apa? makna nya? Adakah yang bisa dijadikan pelajaran dari ini semua? lalu terdengar sorak cieeee berkepanjangan dan saya pun langsung mancal sepeda. Kadang saya merasa saya terlalu kaku dengan hal hal semacam ini, gak asik dan gak iso diajak seneng. But, saya cuma heran aja koorelasi antara gendong istri atau main bola pake daster dengan kemerdekaan Indonesia itu apa? I just don't get it,broh. Sumpah!
Selain itu Perayaan lainnya menyambut kemerdekaan adalah dipasangnya lampu warna warni yang buat kampung saya macem Kafe, rasarasanya asik tuh kalau buka warung kopi, lumayan lampunya gratisan dari kampung. daaan hampir semua kampung seperti itu. Rejeki banget buat pedagang lampu pokoknya.
Mengisi kemerdekaan dewasa ini sering hanya sebagai euforia semata. Bagus bagusan menghias kampung, adu meriahan malam agustusan antar kampung (kampungku nyewa elekton, kampungku nyewa moneta dan bla bla) atau masalah kulineran (Tumpeng di kampungku ada 20, dikampungku malah prasmanan all you can eat dan bla bla bla). Jadi, agustusan yang ditunggu cuma ininya dan saya gak habis pikir dengan cara mereka oun mereka gak habis pikir dengan cara saya. Maka, saya cukup mendengarkan elekton di dalam kamar dengan ditemani nyamuk nakal, sementara ciwi ciwi mulai dandan buat kumpul bareng sama pemudapemuda menikmati hidangan dan elektonan. Sedih saya, dengan apa yang selalu terintas dalam pikiran saya yang ruwet macem ini. Sungguh, saya hanya orang malang yang mendamba pada rasa senang.
Komentar
Posting Komentar