Akhir-akhir ini saya banyak baca buku yang kesemua ceritanya memiliki inti yang sama. Cinta tak pernah tepat waktu nya Puthut EA, Cannery Row nya John Steinbeck sama metamorfosis nya Kafka yang part meditasi. Inti cerita yang ditawarkan adalah tentang meluruhkan perasaan benci, penyesalan, amarah dan dendam lalu membalikkannya dengan pemberian maaf, mencoba menatap masa depan dan berdamai dengan diri sendiri. Huh, saya nulisnya ini sambil menghela napas panjang.
Berdamai dengan diri sendiri, bagi saya adalah sebuah hasil dari kerja keras dalam menetralkan segala macam perasaan yang seolah memburu dan memecut hatimu hingga berkeping-keping. Berdamai adalah bentuk dari memaafkan dan seringkali kita lebih mudah memaafkan oranglain ketimbang diri sendiri. Ironis bukan? Sepanjang pengamatan dari pengalaman saya, berdamai bagi saya (dulu) adalah bentuk paling pengecut manusia semacam membohongi diri sendiri untuk tetap berujar, "tidak apa-apa toh kamu sudah berusaha" padahal dalam hati kita begitu merutuki apa yg sudah terjadi dan rasa rasanya mengatakan hal itu hanya semacam jilatan ice cream sesaat.
Seringkali ketika saya menyesali keadaan fisik saya dengan timbunan lemak seperti ini sementara saya lihat teman-teman dengan 'enteng' loncat sana sini agak kesel juga dan keluarlah kata,"kalo ajaa...." Lalu saya mencoba membohongi diri saya dengan mengatakan, "tapi, seumpama Tuhan kasih aku badan langsing, mungkin aku tidak bisa menjaga aurat" mengingat banyaknya tren pakaian kurang kain saat ini. Saya pun agak tenang. Lalu ketika saya selalu gagal berkali kali saat tes bahasa jepang atau beasiswa selalu saya katakan,"mungkin, kalo kamu ke Jepang, nanti kamu jadi sombong. Bukankah Tuhan mengetahui dirimu lebih dari yang lain. Dia sayang padamu." Dan selesai. Saya begitu cepatnya menambal luka dihati saya. Sampai saya lupa satu hal, telah banyak luka dihati saya pun telah banyak pula tambalan yang ternyata tidak sempurna, yang saya lakukan itu hanyalah sikap membohongi diri saya dengan segala rekaan kemungkinan yang saya sendiri buat, bukan suatu sikap berdamai dengan diri sendiri.
Saya pun mengalami fase mati rasa dimana saya sudah tidak bisa menemukan kesedihan atau mencipta kebahagiaan. Hidup saya berjalan seperti biasa tetapi, sedikit demi sedikit hati saya membeku. Saya menjadi batu. Berhubung saya tidak pernah mengikuti Yoga atau meditasi lainnya yang bisa saya lakukan adalah berdoa dengan tidak menggantungkan harapan saya. Saya cukup mengatakan,"Engkau Tahu aku lebih dari siapapun Tuhan, maka aku yakini Kuasa Mu. " saya berpasrah begitu saja, sedikit demi sedikit saya coba meluruhkan segala macam penyesakan, benci dan amarah. Saya sering menatap lama dicermin merabai segala kenangan lalu ditutup dengan tangisan. Selalu seperti itu. Saya pun mulai mengerti, berdamai dengan diri sendiri bukan hanya sekedar 'menambal' sesaat hati yang luka tapi mengakui segala kesalahan yang pernah saya buat dan merelakannya bukan menyesalinya. Saya biarkan perasaan penyesalan itu hanyut, toh tidak bisa juga saya kembalikan waktu yg lalu lalu. Dan obat yang paling mujarab dari berdamai sengan diri sendiri adalah waktu. Sebab waktu tidak akan berkhianat soal apapun. Berdamailah dengan waktu dan kau akan begitu mudah berdamai dengan diri sendiri.
Berdamai dengan diri sendiri, bagi saya adalah sebuah hasil dari kerja keras dalam menetralkan segala macam perasaan yang seolah memburu dan memecut hatimu hingga berkeping-keping. Berdamai adalah bentuk dari memaafkan dan seringkali kita lebih mudah memaafkan oranglain ketimbang diri sendiri. Ironis bukan? Sepanjang pengamatan dari pengalaman saya, berdamai bagi saya (dulu) adalah bentuk paling pengecut manusia semacam membohongi diri sendiri untuk tetap berujar, "tidak apa-apa toh kamu sudah berusaha" padahal dalam hati kita begitu merutuki apa yg sudah terjadi dan rasa rasanya mengatakan hal itu hanya semacam jilatan ice cream sesaat.
Seringkali ketika saya menyesali keadaan fisik saya dengan timbunan lemak seperti ini sementara saya lihat teman-teman dengan 'enteng' loncat sana sini agak kesel juga dan keluarlah kata,"kalo ajaa...." Lalu saya mencoba membohongi diri saya dengan mengatakan, "tapi, seumpama Tuhan kasih aku badan langsing, mungkin aku tidak bisa menjaga aurat" mengingat banyaknya tren pakaian kurang kain saat ini. Saya pun agak tenang. Lalu ketika saya selalu gagal berkali kali saat tes bahasa jepang atau beasiswa selalu saya katakan,"mungkin, kalo kamu ke Jepang, nanti kamu jadi sombong. Bukankah Tuhan mengetahui dirimu lebih dari yang lain. Dia sayang padamu." Dan selesai. Saya begitu cepatnya menambal luka dihati saya. Sampai saya lupa satu hal, telah banyak luka dihati saya pun telah banyak pula tambalan yang ternyata tidak sempurna, yang saya lakukan itu hanyalah sikap membohongi diri saya dengan segala rekaan kemungkinan yang saya sendiri buat, bukan suatu sikap berdamai dengan diri sendiri.
Saya pun mengalami fase mati rasa dimana saya sudah tidak bisa menemukan kesedihan atau mencipta kebahagiaan. Hidup saya berjalan seperti biasa tetapi, sedikit demi sedikit hati saya membeku. Saya menjadi batu. Berhubung saya tidak pernah mengikuti Yoga atau meditasi lainnya yang bisa saya lakukan adalah berdoa dengan tidak menggantungkan harapan saya. Saya cukup mengatakan,"Engkau Tahu aku lebih dari siapapun Tuhan, maka aku yakini Kuasa Mu. " saya berpasrah begitu saja, sedikit demi sedikit saya coba meluruhkan segala macam penyesakan, benci dan amarah. Saya sering menatap lama dicermin merabai segala kenangan lalu ditutup dengan tangisan. Selalu seperti itu. Saya pun mulai mengerti, berdamai dengan diri sendiri bukan hanya sekedar 'menambal' sesaat hati yang luka tapi mengakui segala kesalahan yang pernah saya buat dan merelakannya bukan menyesalinya. Saya biarkan perasaan penyesalan itu hanyut, toh tidak bisa juga saya kembalikan waktu yg lalu lalu. Dan obat yang paling mujarab dari berdamai sengan diri sendiri adalah waktu. Sebab waktu tidak akan berkhianat soal apapun. Berdamailah dengan waktu dan kau akan begitu mudah berdamai dengan diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar