I was a private teacher. Ketika di tahun 2011, I need to stay In Surabaya. Bisa dibayangin anak Bojonegoro ke Surabaya begitu saja sudah terkesima dengan bangunan tinggi, resto resto mewah dan Mall. Shortly, Aku jatuh cinta dengan Mall. Nah, karena kecintaan itulah hampir setiap hari aku berada di sana. Pulang kuliah, Bosen di kos, kangen rumah. Mall selalu jadi jujukan utama. Meskipun di Mall hanya nongkrong sambil minum air mata kucing tetep harus ada duit yang dikeluarkan. Is that means, I must get a job. Tapi, jadi apa ya? Sampai suatu ketika ada teman nawarin jadi guru les private untuk anak teman ibu kosnya, SMP, semua mata pelajaran. Oke I’m ready.
Setiap seminggu tigakali kesana.
Ketuk pintu rumah, basa basi sebentar lalu memulai pelajaran. Ternyata dia anak
yang pemalu jadi I need to make her nggak punya malu. Hahaha. Tapi, les kita
tidak berlangsung lama dia harus pindah rumah. Selepas itu, Ada yang
menghubungi lagi, seorang ibu-ibu. Anaknya kelas 4 SD butuh private teacher,
rumahnya pun nggak jauh. Perumahan depan gang, bapaknya orang Jepang, pelatih
kendo. Aku ngelesin pukul 7 sampai 8.30 malam. Dia tipikal anak yang rasa ingin
tahunya besar. Setiap hari selalu aja ada yang ditanyakan dari urusan remeh
temeh, sampai mengarah ke filsafat sampai juga pada urusan agama. BTW,
keluarganya muslim dan dia ingin jadi seorang muslim yang baik. Dia pun minta
diajari baca Al-Qur’an disela-sela waktu belajarnya. Suatu ketika, bapaknya
lagi baca Koran selepas kerja di ruang keluarga, sementara aku ngelesin juga
disana, karena si anak lagi males belajar di kamar. Tiba-tiba dia Tanya
santai,”Miss, khamr sama sake itu, haram ya?” Aku jawab santai juga,”Semua yang
memabukkan itu haram.” Dia nanya lagi,”Berarti kalau minum itu dosa kita ya?”
Aku ketawa,”Hahha, iyalah makanya jangan minum kayak gitu.” Daaaann dia tanpa
aku tahu maksud tersembunyi nya, ia pun menimpali, “Papa, sering minum sake
dibeliin temannya dari Jepang.” Jleb! Takut, takut aku lihat muka papanya dan
pas dia lagi menatapku lama, meringis aku ganti topic pembicaraan.
Pengalaman ngelesi-ku pun
berlanjut disebuah keluarga yang tidak lagi utuh. Si anak masih kelas 1 SD.
Anak yang periang, lucu dan menyenangkan. She’s kind of princess wanna be gitu,
manja. Mamanya kerja sampai malem dan dia selalu merengek kepadaku agar aku
tetap tinggal meskipun jatahku stay hanya 1 setengah jam only. But, I must
admit it. Pembantunya, jago bikin snack, dari kentang goreng, pancake, sosis
mie dan yang paling the best adalah sup nya. Juara!
Selanjunya, untuk pertamakalinya
ngelesi anak kecil usia 4 tahun. Jadi, mamanya adalah teman dari yang orang
Jepang itu tadi dan dia merekomendasikan aku. Meluncurlah aku kerumahya.
Anaknya lucu khas anak cina yang towel-able. Dia mau persiapan masuk TK jadi
mamanya minta aku ngajarin pegenalan huruf, angka, dan kata dalam bahasa
Indonesia. Setuju, Kesepakatan terjadi. Waktunya ngelesi ternyata si anak,
B.Indonesia nya pas-pas an. Inggisnya pun begitu jadi dia ngomong pakai
mandarin, dan aku terakhir belajar mandarin pas SMA itupun aku gak mahir. Satu
setengah jam yang bisa aku pahami dari dia adalah tangisannya semata. Akhirnya,
aku di pinjami buku belajar bahasa mandarin oleh om-nya. Sedikit banyak aku
jadi mengerti. Tapi, dia makin sering nangis, karena semakin aku bisa bermandarin,
semakin aku bisa minta dia belajar dan she hate it! Hehehe.
Setelah itu, petualangan ngajar
ngelesi ku berlanjut di keluarga yang sangat menyenangkan. Tinggal di perumahan
mewah tetapi anak-anaknya, baik dan gak sombong. Aku betah berlama-lama disini.
Mereka juga mengijinkanku untuk Sholat di kamarnya, sementara yang lain─memintaku
untuk sholat dikamar sempit pas badan dan harus nambah waktu ngelesi sesuai
waktu yang aku habiskan untuk sholat. Kehidupan meeka yang kaya membuat mereka
sangat senang ketika aku bercerita tentang masa kecil ku di desa. Mandi di
sungai, misalnya. Mereka selalu antusias. Ketika ada waktu luang, kita nonton
film bareng dirumahnya, kadang masak bareng, kadang main monopoli juga. Sayang,
mereka pada akhirnya harus pindah ke Singapura dan melanjutkan sekolah di sana.
Setelah itu aku terdampar di
sebuah keluarga lain yang penuh konflik. Anak mereka menderita smacam gangguan
cara membaca yang entah kenapa, ia selalu membaca kata dengan terbalik. Tidak
hanya itu, perlakuan kasar papanya yang sering mengatai dia bodoh membuat dia
menjadi anak yang tidak percaya diri, tertutup dan pemalu. Tapi, dia sangat
baik, ia selalu siap menunggu ku diteras rumahnya─menanti kedatanganku. Dengan
segenap cara aku ubah cara dia memandang rendah terhadap dirinya. Meskipun
perkembangannya lambat, toh pada akhirnya dia berubah juga, ia semakin serius
belajar, selalu bertanya. Tapi, entah kenapa di suatu pagi, Ibunya mengabari
bahwa si anak akan diasuh kakeknya di Desa.
Tidak berhenti disitu saja. Suatu
hari aku diminta untuk ngelesi seorang anak yang sampai sekarang pun. Aku masih
ingat katakata yang ia lontarkan padaku. Sebenarnya, ia anak yang manis tetapi
bisa dengan mudahnya marah. Memarahi semua. Suatu hari kita matimatian belajar
matematika. Dia ada Test besoknya, tetapi karena dia sudah terlanjur benci
matematika she’s failed. Gatot alias gagal total. Sore nya waktu aku kesana,
dia mendatangiku, berkacak pinggang sambil teriak,”Miss, you’ve ruined my
life!” Aku terkesima, sungguh ini pertamakalinya dalam hidupku.
Setelah itu aku semakin sibuk
menjadi guru les private. Kesana-kemari, dari rumah satu ke rumah yang lain,
Dari kelas PAUD hingga yang berkeluarga. Dari keluarga biasa sampai keluarga
yang mau masuk rumahnya saja kudu sabar nunggu di luar pagar. Dari anak yang
baik dan penurut sampai anak yang luar
biasa segala-galanya. Dari orang tuanya yang tidak terlalu perhatian sampai
orang tua yang terus minta dikirimi laporan perkembangan anaknya tiap selesai
ngelesi. Dari keluarga yang selalu menyediakan snack beraneka rupa sampai gak
ada sama sekali. Hahaha.
Kesibukan mengajar private justru
membuatku lupa tentang tujuan semula aku cari part time job. Aku jadi semakin
jarang menunjungi cintaku─Mall. Jadwalku pun full bahkan sabtu dan minggu pun aku
terima part time job. Tapi, pengalaman mengajar private seperti ini membuatku
belajar banyak hal. Bahwa, Tidak ada keluarga yang sempurna, se-kaya apapun
keluarga itu.
Komentar
Posting Komentar