Apa
yang sudah terjadi pada Negeri ini sudah tidak lagi dapat ditangani oleh para
dewan, penegak hukum pun angkat tangan.
Semuanya menyerah, Hukum Negara porak poranda, Hukum agama bahkan hanya dilihat
sebelah mata. Dengan mengaku kebebasan dan hak asasi manusia Manusia menjelma
beringas bak iblis dan liar layaknya setan. Menganut zaman Belanda, perang adu
domba merajalela. Tidak ada lagi kesamaan suku, agama atau asas sesama manusia,
yang ada hanya kebencian dan mata-mata memerah penuh amarah yang harus
dilampiaskan. Setiap hari tiada henti selalu ada manusia yang mati dan sungguh
tiada lagi tempat untuk bersembunyi.
Foto-foto
pahlawan yang tergantung di dinding kelas tertunduk lemas, hanya isak tangis
terdengar memecah kesunyian. Sebelumnya, para pahlawan selalu tersenyum bangga,
Perjuangan membebaskan Negeri ini dari penjajah tidak sia-sia. Anak-anak muda
begitu bersemangat belajar meraih mimpinya. Deru cita-cita dan angan membahana
memenuhi seisi kelas. Membuat para pahlawan mengangguk-angguk tersenyum
bahagia. Tapi, lihatlah kini, kelas ini sepi ditinggal penghuni nya. Mereka
asyik di jalanan menenteng senjata, menjarah apa saja yang tersedia. Cita-cita
mereka hanya satu ; jadi orang yang berkuasa dan bergelimang Harta. Jadi, di
sinilah mereka sekarang memulai kembali hokum rimba yang dulu telah lama
ditinggalkan.
Sementara,
ketika sudah tidak ada lagi pembeda antara manusia dan hewan, secara diam-diam
para pemimpin Negara dan pemuka agama melakukan pertemuan, mencari kesepakatan.
Ada yang hanya geleng-geleng kepala, ada yang menodongkan senjata, ada yang
percaya pada hokum karma, reinkarnasi dan bahkan ada yang hanya tunduk diam manut pada apapun keputusan. Sebelum
suasana berubah layaknya di arena tinju, salah seorang pemuka agama
menetralisir dengan tausyiah, menjaga mereka agar tetap menjadi manusia
seutuhnya.
Setelah
terjadi perundingan alot yang memakan waktu, suatu kesepakatan besar dicapai
dan disetujui ;Bahwa semua mata uang yang berlaku di dunia ini akan diganti
dengan satuan kebaikan. Tidak ada lagi
rupiah, dollar, yen maupun poundsterling, yang ada hanya mata uang kebaikan.
Ya, rupa-rupanya mereka kini sudah sadar. Inti dari peperangan ini adalah uang
yang dipuja-puja bak Tuhan. Kini, manusia-manusia tidak akan lagi menghamba
pada uang, kini mereka akan menghamba pada kebaikan. Uang mulai ditarik
peredarannya di seluruh pelosok Negeri. Orang-orang mulai kebingungan karena
uang yang telah mereka dapatkan tidak dapat digunakan. Mereka tidak lagi sibuk
berperang, mereka lebih sibuk memikirkan perutnya.
Begitulah
kakek bercerita, mengenang masa-masa kelam yang pernah dilaluinya. Sesekali ia
mengusap matanya, sembari menatap keluar jendela, ia tidak berkata apa-apa,
mata nya menerawang jauh seolah mencari kembali potongan-potongan hidupnya yang
telah raib dimakan usia. Sudah puluhan kali kudengar cerita ini dari kakek,
tapi aku tidak pernah bosan. Setiap kali mendengar cerita kakek, aku selalu
begidik ngeri. Bagaimana bisa manusia bertindak kejam terhadap sesama manusia
hanya karena uang, yang aku sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk
dan rupa uang sehingga membuat manusia tergila-gila dan begitu memujanya. Aku
sungguh tidak mengerti dan tidak pula bisa memahami kehidupan manusia di jaman
kakek dulu.
Kini,
di Negeri ini kami hidup penuh kedamaian. Orang-orang menebar senyum dan saling
menyapa. Karena di sini, kami bisa sekolah, membeli baju, membeli sepatu dan
keperluan rumah tangga dengan menukarkan kebaikan yang telah kami kumpulkan.
Kami, anak-anak di sini, hanya mendengar kata kejahatan, kemiskinan, korupsi,
bom, perang hanya sebatas cerita dari kakek atau guru sejarah kami tanpa
mengetahui arti pastinya.
Di
sini, kami berlomba-lomba mengumpulkan kebaikan. Di sini, yang kami tahu
kebaikan dapat membeli semua yang kami inginkan. Tiap pagi datang, kami membuka
mata dengan memulai menyusun rencana kebaikan sementara tiap malam kami
mengakhiri waktu dengan menghitung kebaikan yang telah kami kumpulkan.
16 Sept 2016,
10;58 PM
Komentar
Posting Komentar