Judul: Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis: Eka Kurniawan
Cetakan: Pertama-Maret 2015, Kedua- Juli 2015, Ketiga- April 2016
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-072-5
Jumlah Halaman : 166 Halaman
Ini adalah buku pertama yang saya baca semenjak saya mengenal Eka kurniawan. Awalnya, dengan judul yang menurut saya terlalu 'bermimpi' saya jadi ragu waktu membelinya. Tapi, ternyata keraguan saya seketika ditepis oleh sebuah cerpen pembuka yang berjudul gerimis yang sederhana. Saya begitu saja langsung jatuh hati. Tema yang diangkat sangat sederhana dengan bahasa yang juga sederhana tetapi begitu berkesan. Gerimis yang sederhana bercerita tentang sebuah pertemuan seorang gadis dan pemuda berlatar di Amerika serikat. Pertemuan yang pada mulanya saya tebak akan menjadi sebuah kisah cinta semacam, cinta pada pandangan pertama atau yang lainnya (hahaha, maklum saya anak alay yang suka kemainstreaman). Pertemuan singkat yang diakhiri dengan kalimat yang tidak pernah saya lupa, Mei mengambil tisu dan mengusap ujung matanya. Sambil membetulkan topi di kepalanya, serta masih tertawa kecil, ia berkata, “Baiklah. Ayo kita cari pengemis itu.” Ia menoleh ke belakang, berancang-ancang untuk memutar mobil yang dikendarainya. Lagi-lagi kemudian Mei tertawa, sambil memukuli kemudi dan berkata, “Hampir sepuluh tahun dan aku belum pernah ketawa serupa ini. Lelaki memang tolol sekali, ya?”
Penulis: Eka Kurniawan
Cetakan: Pertama-Maret 2015, Kedua- Juli 2015, Ketiga- April 2016
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-072-5
Jumlah Halaman : 166 Halaman
Ini adalah buku pertama yang saya baca semenjak saya mengenal Eka kurniawan. Awalnya, dengan judul yang menurut saya terlalu 'bermimpi' saya jadi ragu waktu membelinya. Tapi, ternyata keraguan saya seketika ditepis oleh sebuah cerpen pembuka yang berjudul gerimis yang sederhana. Saya begitu saja langsung jatuh hati. Tema yang diangkat sangat sederhana dengan bahasa yang juga sederhana tetapi begitu berkesan. Gerimis yang sederhana bercerita tentang sebuah pertemuan seorang gadis dan pemuda berlatar di Amerika serikat. Pertemuan yang pada mulanya saya tebak akan menjadi sebuah kisah cinta semacam, cinta pada pandangan pertama atau yang lainnya (hahaha, maklum saya anak alay yang suka kemainstreaman). Pertemuan singkat yang diakhiri dengan kalimat yang tidak pernah saya lupa, Mei mengambil tisu dan mengusap ujung matanya. Sambil membetulkan topi di kepalanya, serta masih tertawa kecil, ia berkata, “Baiklah. Ayo kita cari pengemis itu.” Ia menoleh ke belakang, berancang-ancang untuk memutar mobil yang dikendarainya. Lagi-lagi kemudian Mei tertawa, sambil memukuli kemudi dan berkata, “Hampir sepuluh tahun dan aku belum pernah ketawa serupa ini. Lelaki memang tolol sekali, ya?”
Mei masih tertawa, sepanjang jalan terdengar serupa gerimis yang sederhana. Cerita pembuka yang sukses membawa buku itu ke kasir dengan segera.
Dalam kumpulan cerpen ini ada 15 cerita pendek yang disuguhkan Eka, yang kesemuanya bagi saya fantastis, kecuali justru cerpen perempuan patah hati yang menemukan cinta melalui mimpi. I just don't get it gitu, hehehe. well, what I like the most from Eka itu, dia bisa banget ngangkat tema yang sederhana jadi berkesan, padahal kalau dipikir-pikir kebanyakan tema ada disekeliling kita. lalu, juga cara dia memainkan kata-kata dan alurnya uh, totally jealous. daaan yang paling bikin kesel adalah cara dia bikin endingnya, duh eka adalah sosokyang handal dalam mempermainkan perasaan pembaca macem saya. Overall buku ini masuk kategori buku yang harus dibaca, kecil, imut, covernya bagus (yah, cuma judulnya aja sih, yang sooooo cizi :D) siluet perempuan berlatar pantai dengan pemandangan senja hanya satu kekurangan Eka; Dia sudah married! hehehe.

Komentar
Posting Komentar