Langsung ke konten utama

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas



“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati.” Kalimat ini menjadi pembuka dalam novel seperti dendam rindu harus dibayar tuntas karya Eka kurniawan. Novel ini bercerita tentang Arjo Kawir, seorang lelaki yang harus menerima kenyataan bahwa burung (kemaluan) nya tidak bisa berdiri atau mengalami disfungsi ereksi. Asal muasalnya adalah ketika ia bersama temannya bernama si Tokek mengintip Rona merah, seorang perempuan gila yang diperkosa oleh dua orang polisi. Semenjak kejadian tersebut, Arjo Kawir harus hidup dengan burung yang enggan bangun dari tidur panjangnya. Meskipun sudah berbagai cara dilakukan oleh Arjo kawir untuk membangunkannya. “Si burung berpikir dirinya seekor beruang kutub yang harus tidir lama di musim dingin yang menggigilkan. Ia memimpikan butir-butir salju yang turun perlahan, yang tak pernah dilihat oleh tuannya.” (Hal.1-2)
Begitulah Eka menggambarkan Keengganan burung Arjo Kawir untuk bangun. Sebagai seorang lelaki pasti saja Arjo kawir tidak terima dengan keadaan ini. Hidupnya menjadi semrawut, ia pun melampiaskan kemarahan, rasa frustasinya dengan cara kekerasan dan berbuat onar. Seolah-olah hal itu mampu mengobati kesedihannya. Karena itu pula, tidak salah jika Iwan Angsa mengingatkan si Tokek.”Lelaki yang tak bisa ngaceng sebaiknya jangan dibuat berang “. (Hal. 3)
Cerita semakin menarik ketika Arjo kawir jatuh cinta dengan iteung. Cinta membuat ia semakin kalap. Ia didera rasa ingin-tidak ingin memiliki Iteung sebab ia tahu betul bahwa ia tidak akan bisa membahagiakan Iteung dengan burung yang memilih tidur panjang. Ia menjadi semakin beringas sebagai upaya untuk membunuh perasaannya pada Iteung. Rasa rindu dan rasa cintanya pada Iteung membuat ia semakin frustasi. “kita tidak bisa menghentikan seseorang dari jatuh cinta. Bahkan orang yang jatuh cinta itu sendiri. Jatuh cinta seperti penyakit. Ia bisa datang kapan saja seperti kilat dan geledek, dan bisa tanpa sebab apapun.” (Hal. 64). Tetapi akhirnya setelah beberapa lama, Arjo kawir mampu menguasai hatinya. Ia berhasil membenamkan (sementara) kekhawatirannya dan menikahi Iteung. Namun masalah kembali muncul ketika Iteung hamil dengan lelaki lain, bernama Budi baik. Pelecehan seksual yang pernah dialaminya ketika kecil dulu menyebabkan ia tidak bisa untuk tidak melampiaskan hasratnya secara nyata. Mengetahui hal itu Arjo kawir tidak mampu lagi memendam kekecewaannya, ia pun melampiaskan kemarahannya dengan membunuh Si Macan, orang yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian Iteung. Arjo kawir pun harus mendekam di Penjara.
Setelah bebas dari penjara, Arjo kawir menjadi sopir truk dengan keneknya yaitu Mono ompong. Ia mulai dapat menerima keadaannya. Menerima keputusan si burung untuk tetap tidur panjang. Ia menggunakan burungnya sebagai alat untuk bertasawuf tentang hidup, tentang nafsu yang seringkali menguasai nurani dan tentang apa saja. Dialog-dialog yang ia lakukan dengan si burung membuat ia pandai berdamai dengan segala keadaan. Ia bahkan telah menganggap anak Iteung juga merupakan anak nya meskipun ia masih belum bisa bertemu dengannya. Kasih sayang Arjo kawir ditunjukkan dengan memasang foto anaknya. Arjo kawir juga telah mampu menahan rasa amarah terbukti ia tidak pernah meladeni Si kumbang, teman sopir truknya yang sering membuat masalah dengan Mono ompong.
Dengan mengusung tema seksualitas semacam ini, saya rasa Eka ingin mengajak kita untuk kembali merenung, memaknai hidup dengan cara yang memang tidak biasa yaitu melalui kemaluan. “Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Tapi, kemaluan juga bisa memberimu kebijaksanaan.” (Hal. 126). Begitulah Eka dengan piawainya, mampu membuat imajinasi kita melanglang jauh. Coba jika Arjo kawir tidak mengalami disfungsi ereksi pastilah ia akan semaunya sendiri dalam mempergunakan kemaluannya. Seperti Pak Lebe, gurunya Iteung dan kedua polisi yang memerkosa Rona merah.  Kemaluan dan kekuasaan ternyata adalah sebuah ujian dan rata-rata orang yang punya kuasa selalu bisa memanfaatkan kekuasaanya dan kemaluannya. Begitu pikir saya.
Tidur panjang yang dilakukan si burung memberikan perubahan sikap yang luar biasa terhadap Arjo kawir, ia bahkan memberikan kebebasan kepada burungnya untuk bangun kapan saja dia mau. Lalu, apakah burung tersebut akan tidur selama-lamanya? Ternyata tidak. Lewat perjumpaannya dengan seorang gadis misterius bernama Jelita, Arjo kawir mengalami mimpi basah. Ia pun mulai berpikir dan menerka-nerka apakah si burung menginginkan kehadiran Jelita? Rasa penasaran Arjo kawir pun terjawab sudah disebuah bilik kamar mandi ketika ia berhubungan badan dengan Jelita. Burung yang selama ini pulas tertidur kini bangun, beruang kutub itu telah bangun dari hibernasinya. Dari cerita ini saya menangkap kesan bahwa Eka ingin membuat sensasi magis lewat tokoh Jelita yang datang dan pergi secara tiba-tiba. Saya pun awalnya agak kecewa juga dengan yang dilakukan Arjo kawir, apakah ini sebagai pembalasan kepada Iteung yang mengkhianatinya? Setelah baca lagi ternyata tidak. Arjo kawir tetap mencintai Iteung sebagai  gadis pujaannya. Ia hanya menyalurkan cintanya kepada Iteung melalui Jelita yang akhirnya mampu membuat burungnya kembali bangun, begitulah kira-kira menurut saya.
Setelah itu, Arjo kawir pun memutuskan untuk pulang. Berkumpul dengan Iteung dan anaknya. Apalagi dihari itu Iteung telah bebas dari penjara setelah membunuh Budi baik. Ini akan menjadi  akhir yang bahagia. Tetapi, lagi-lagi saya salah. Eka berhasil mengejutkan saya dengan kejadian selanjutnya dimana Iteung kembali harus masuk penjara karena membunuh dua orang polisi yang dulu memerkosa Rona merah. Saya hanya bisa nelangsa mengetahui ending yang sakarepe dewe ala Eka tapi cukup membuat saya tersenyum miris. Eka dengan begitu lihainya membolak-balikkan perasaan saya dengan ending sedemikian rupa. Dan lagi, ada pertanyaan yang muncul setelah saya selesai membaca novel ini. Saya merasa judul novel ini tidak semata-mata hanya karena tulisan yang ada di truk Arjo kawir bukan? Lalu, rindu apa yang dimaksud Eka disini> Apa rindu untuk kembali berkumpul dengan keluarganya ataukah rindu untuk menyaksikan kembali burungnya ngaceng agar dapat membahagiakan Iteung? Entahlah, yang jelas Eka kurniawan telah membuat saya rindu untuk membaca kembali tulisan-tulisannya.

19 Mei 2017,
Nur Fadilatis Saadah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Tinder, Bottled dan Speaky, (Dating or learning aplikasi?)

Hello gaes, welcome to this Blog! Sebagai salah satu dari banyak wanita kesepian hahaha, Download aplikasi chatting adalah sebuah pilihan nyata. Nah, ini ada 3 aplikasi yang aku download untuk membunuh kesepian ku atau untuk menghilangkan awkward moment saat temen-temen kalian pada asyik main hape sementara kalian ga ada yang ngajak chatting. hahaha, so let's zoom in those 3 applications:  1. Tinder Aplikasi dating online yang dari dulu sampai sekarang masih setia digunakan oleh pengguna nya Termasuk aku even I never get so close with them. Tapi kadang kalo lagi iseng asyik aja swipe swipe an gitu. So aku udah pake aplikasi ini kurang lebih 3 tahunan gitu. Tapi sampai sekarang nggak nyantol-nyantol juga. Aplikasi tinder memungkinkan kamu buat ketemu orang orang yang secara jarak masih bisa terjangkau dengan kamu. Biasanya dia bakal nyari yang terdekat, about beberapa miles gitu. Cuman karena ini aplikasi yang pure buat dating so buat dapet banyak swipe kudu pinter pi...

REVIEW Yez Yez Yez All good Hostel jogja; Hostel unik yang memanjakan mata

Hello, gaes. Welcome to this Blog! Weekend kemarin aku dan temenku memutuskan untuk jalan jalan ke Jogja selama 2 hari. Bisa dikatakan ini unplanned travelling gitu. Jadi persiapan juga serba mendadak dan semuanya kita mengandalkan google. Setelah nanya nanya ke Google dengan keyword, 'Hostel yang unik dan murah di Jogja' Kami pun akhirnya menemukan beberapa opsi penginapan. Hal yang kami bandingkan pasti adalah :  1. Harga 2. Tempat (Rating review, Photo yg di upload, fasilitas) 3. Lokasi (Jauh atau tidaknya dari Malioboro) Sebelum-sebelumnya saya sendiri selalu menginap di daerah sosrowijayan. Ada losmen yang sudah jadi langganan sejak jaman kuliah tapi karena pengen mencoba penginapan lain maka perburuan dan pencarian hostel pun dimulai. Dari buanyak sekali review dari netijen, akhirnya kami memutuskan 3 hostel yang akan kami PDKT in via booking.com ataupun traveloka. Ketiga hostel itu adalah : 1. Sae sae hostel 2. Bring in house 3. Yez yez hostel.  Setela...

Review - Pacar seorang seniman- Ws. Rendra

Siapa yang tidak kenal Rendra? saya mengenal Rendra sebagai seorang penyair dengan puisi-puisinya yang luar biasa saya suka. Kali ini, Alhamdulillah saya berkesempatan membaca kumpulan Cerpen Ws. Rendra yang diterbitkan oleh penerbit bentang berjudul, Pacar seorang seniman. Duh, judulnya bikin deg deg an (Maklum, lagi pengen punya pacar seniman). Buku kumcer tersebut dihiasi dengan (apa ya nama nya..) lukisan-lukisan ditiap babnya. Covernya pun bergambar seorang perempuan berambur pendek dengan dominasi latar (agak) kuning dan hijau, ber'seni' banget. Cocok dengan judulnya. Cerita pendek ini ditulis Rendra pada tahun 1950-1960 an jadi, latar sosial, budaya maupun bahasanya ya disesuaikan pada jaman itu. Berasa lagi time travel, yang paling saya suka sih bahasanya. rapi dan manis. Well, didorong rasa penasaran pakai banget saya pun membaca kumcer ini dalam waktu yang singkat. Ada 13 cerita pendek dengan tema beragam. Tetapi I don't know why hanya beberapa cerpen yang meleka...