Langsung ke konten utama

MEMBACA CHE DALAM KACAMATA EKONOMI






 “Jauh lebih mudah mati di parit perlindungan saat melawan musuh ketimbang bekerja dengan upaya maksimum selama 365 hari dalam setahun”. Begitu kata Ernesto Che Guevara yang lebih dikenal dengan Che atau Che Guevara. Sebenarnya, Che bukanlah nama melainkan sapaan semacam ‘bung”khas Argentina. Che Guevara dikenal sebagai tokoh revolusioner, dokter, pemimpin gerilya dan pakar teori Marxis. Ia lahir di Argentina, 14 Juni 1928 dan meninggal di Blovia, 9 Oktober 1967 pada usia 37 tahun
Empat decade setelah wafatnya, Che masih terus menyita perhatian publik. Terbukti dengan banyaknya buku-buku biografi yang mengupas detail masa muda Che dan kiprah militernya. Tetapi justru banyak yang tidak mengamati kiprah dan sumbangsihnya pada penataan industry dan manajemen ekonomi Kuba atau pada perdebatan ekonomi-politik sosialis. Oleh karena itu Helen Yaffe, seorang dosen di Universitas Leicester menyoroti Che Guevara dalam kaitannya dengan masalah ekonomi ketika Che menjabat sebagai Presiden Bank Nasional, Kepala departemen industrialisasi serta menteri perindustrian. Buku ini diterjemahkan oleh Ronny Agustinus, pemimpin redaksi margin kiri yang banyak mengulas sastra Amerika latin.
Dalam buku ini terdapat 10 bab dengan poembahasan yang beragam, sengaja disusun seperti itu untuk menggiring pembaca agar lebih mengenal Che Guevara dalam sepak terjangnya dalam masalah ekonomi. Meskipun bertajuk ekonomi buku ini juga menyuguhkan sisi lain dari Che yang diungkapkan langsung oleh teman-teman Che melaslui hasil wawancara maupun kutipan-kutipabn yang diambil dari buku –buku mengenai Che sebelumnya. Kalau boleh saya bilang, buku ini ibarat martabak spesial, lengkap dengan berbagai varian isi.
Helen Yaffe begitu detail memaparkan tentang langkah-langkah Che dalam bidang ekonomi yang membuat kita semakin berdecak kagum atas sosoknya. Padahal Che bukanlah seorang ahli ekonomi, namun semangat revolusi yang menggelora didalam dadanya membuat ia berani memegang kendali atas ekonomi Kuba. “Aku pun tidak tahu apa-apa soal perbankan dan malah diangkat sebagai presidennya, tapi ketika revolusi menempatkanmu pada sebuah jabatan, satu-satunya yang bias diperbuat adalah menerimanya, belajar dan bekerja sebagaimana seharusnya.” Begitu kata Che saat ia diberikan tugas sebagai presiden BNC (Bank Nasional Kuba) bahkan ia juga menyatakan bahwa bakat ekonomi yang ada padanya merupakan rahmat dari Tuhan. Selepas rezim Batista runtuh, Kuba menjadi Negara yang berpenduduk tetapi kosong seperti bangunan yang ditinggalkan pemiliknya. Saat itu Kuba di embargo oleh Amerika Serikat dan juga ditinggal oleh para profesionalis Kuba yang memilih untuk meninggalkan Negaranya. Praktis, Kuba hanya dipimpin oleh pemerintah revolusioner yang mulai bekerja dari awal untuk membangun kembali pemerintahan bersih tanpa bekas Batista. Ini membuat banyak sekali investor yang memang kebanyakan dari Amerika serikat menarik investasinya dan satu persatu mulai hengkang dari Kuba. Ditengah, ombang-ambing seperti ini, Che dengan segala keberanian dan semangatnya mengemban tugas untuk menata ekomoni Kuba, “negeri yang terlahir kembali.” Ketika ia menjabat sebagai Presiden BNC, Che merasa perlu untuk belajar matematika sehingga ia pun tidak segan untuk meminta prof. matematika untuk mengajarinya Aljabar, Trigonometri, Geometri analitis, kalkulus diferensial dan Integral. Ia pun selalu menerapkan slogan,”La sobre marche.” Belajar sambil jalan kepada kamerad-kameradnya.
Tidak hanya fokus pada bidang ekonomi, Che juga menyoroti pada bidang pendidikan. Menurut Che, pendidikan adalah bagian dari amunisi revolusi dan bahwa mendidik kaum miskin merupakan prakondisi untuk memenangkan pertempuran melawan dominasi imperialis, menyiapkan mereka untuk merebut kuasa mereka sendiri. Baginya, pendidikan sama asrtinya dengan kebudayaan (asimilasi pengetahuan dari seni sampai sains) dan kebudayaan adalah bagian dari “manusia baru” sosialisme/komunisme yang membedakannya dari kaum protelar  di bawah kapitalisme  yang dalam kata-kata Marx,”Hidup asalkan bias mendapat kerja dan yang mendapat kerja asalkan tenaga kerja mereka meningkatkan capital.” Pendidikan merupakan proses konstan dan dinamis yang harus digulati oleh si revolusioner setiap harinya sebagai sebuah sarana perbaikan diri dan melalui itu, pembangunan sosial.
Che menyadari tentang hakikat pendidikan yang sebenarnya, ia pun turun tangan untuk mengajari baca tulis dan pendidikan umum untuk para pasukan, buruh maupun penduduk setempat. Fasilitas-fasilitas Negeri dibangun sehingga seluruh masyarakat dapat belajar secara gratis dan bahkan buruh dibayar untuk belajar. Pada tahun 1960, kampanye literasi diluncurkan dan mencapai sasarannya memberantas buta huruf dalam setahun. Lebih dari 300.000 warga Kuba, termasuk 100.000 pelajar banyak diantaranya masih remaja, berkeliling Kuba mengajar lebih dari 700.000 orang membaca dan menulis dan secara simultan mengalami sendiri bagaimana kaum termiskin di Negeri itu hidup, menguatkan rasa sebagai Cubanidad (orang Kuba) dan pemahaman mengenai peruban sosial mendalam yang dihadirkan oleh revolusi.
Begitu indahnya saya membayangkan ketika masyarakat Kuba bahu membahu mendorong semangat belajar diantara mereka atas nama revolusi mereka bergerak cepat demi Negara nya. Tidak hanya itu, ketika Kuba dilanda krisis Keuangan akibat tidak adanya pemasukan karena tidak tersedianya bahan-bahan produksi akibat blokade Amerika Serikat. Para pejabat pemerintah Kuba serta masyarakat rela dipotong gajinya sebagai pemasukan Negara. Bahkan, Che menolah besaran gajinya sebagai menteri. Che hanya meminta gaji bulanan sekitar 190 peso sama seperti gaji prajurit. Sikap Che ini membuat kader MININD (Kementrian perindustrian) melakukan hal yang sama. Saya jadi membayangkan pula seandainya para pejabat di Negeri ini hanya mengambil separo dari gaji mereka dan merelakan separo gajinya untuk kas Negara…ah, rasa-rasanya saya berandai-andai cukup tinggi….
Revolusi ekonomi yang dilakukan oleh Che Guevara seolah menjawab keraguan banyak pihak atas kemampuannya. Meskipun ditengah embargo Amerika serikat dan pelarian kaum professional, melalui semangat revolusi yang digerakkannya, Che mampu menata ekonomi Kuba sedemikian rupa. Che tidak hanya ahli dalam aksi militer tetapi ia juga mampu menjadi pemimpin yang diteladani. Ia tidak segan untuk turun langsung bekerja bersama-sama dengan masyarakat.
Pada bab terakhir, warisan Che. Tirso Saenz mengatakan,” Che member teladanb pribadi dalam segala hal. Bisakah kau bayangkan ia menggerakkan para gerilyawan Amerika latin sambil duduk-duduk bersandar sebagai menteri di Kuba dan menghisap cerutu? Ia tidak bias begitu. Secara pribadi aku mendengar Che berulang kali berkata,”Aku tidak mau mati sebagai birokrat. Aku mau mati saat berjuang di pegunungan”. Dan, Tuhan pun mengabulkan keinginannya.
Buku ini meskipun bertajuk ekonomi, sangat patut dibaca oleh berbagai pihak, sangat perlu pula dijadikan referensi bagi ‘mereka-mereka’ yang mau mencalonkan diri menjadi pemimpin. Eits, sebentar lagi pilkada, bukan?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Tinder, Bottled dan Speaky, (Dating or learning aplikasi?)

Hello gaes, welcome to this Blog! Sebagai salah satu dari banyak wanita kesepian hahaha, Download aplikasi chatting adalah sebuah pilihan nyata. Nah, ini ada 3 aplikasi yang aku download untuk membunuh kesepian ku atau untuk menghilangkan awkward moment saat temen-temen kalian pada asyik main hape sementara kalian ga ada yang ngajak chatting. hahaha, so let's zoom in those 3 applications:  1. Tinder Aplikasi dating online yang dari dulu sampai sekarang masih setia digunakan oleh pengguna nya Termasuk aku even I never get so close with them. Tapi kadang kalo lagi iseng asyik aja swipe swipe an gitu. So aku udah pake aplikasi ini kurang lebih 3 tahunan gitu. Tapi sampai sekarang nggak nyantol-nyantol juga. Aplikasi tinder memungkinkan kamu buat ketemu orang orang yang secara jarak masih bisa terjangkau dengan kamu. Biasanya dia bakal nyari yang terdekat, about beberapa miles gitu. Cuman karena ini aplikasi yang pure buat dating so buat dapet banyak swipe kudu pinter pi...

REVIEW Yez Yez Yez All good Hostel jogja; Hostel unik yang memanjakan mata

Hello, gaes. Welcome to this Blog! Weekend kemarin aku dan temenku memutuskan untuk jalan jalan ke Jogja selama 2 hari. Bisa dikatakan ini unplanned travelling gitu. Jadi persiapan juga serba mendadak dan semuanya kita mengandalkan google. Setelah nanya nanya ke Google dengan keyword, 'Hostel yang unik dan murah di Jogja' Kami pun akhirnya menemukan beberapa opsi penginapan. Hal yang kami bandingkan pasti adalah :  1. Harga 2. Tempat (Rating review, Photo yg di upload, fasilitas) 3. Lokasi (Jauh atau tidaknya dari Malioboro) Sebelum-sebelumnya saya sendiri selalu menginap di daerah sosrowijayan. Ada losmen yang sudah jadi langganan sejak jaman kuliah tapi karena pengen mencoba penginapan lain maka perburuan dan pencarian hostel pun dimulai. Dari buanyak sekali review dari netijen, akhirnya kami memutuskan 3 hostel yang akan kami PDKT in via booking.com ataupun traveloka. Ketiga hostel itu adalah : 1. Sae sae hostel 2. Bring in house 3. Yez yez hostel.  Setela...

Review - Pacar seorang seniman- Ws. Rendra

Siapa yang tidak kenal Rendra? saya mengenal Rendra sebagai seorang penyair dengan puisi-puisinya yang luar biasa saya suka. Kali ini, Alhamdulillah saya berkesempatan membaca kumpulan Cerpen Ws. Rendra yang diterbitkan oleh penerbit bentang berjudul, Pacar seorang seniman. Duh, judulnya bikin deg deg an (Maklum, lagi pengen punya pacar seniman). Buku kumcer tersebut dihiasi dengan (apa ya nama nya..) lukisan-lukisan ditiap babnya. Covernya pun bergambar seorang perempuan berambur pendek dengan dominasi latar (agak) kuning dan hijau, ber'seni' banget. Cocok dengan judulnya. Cerita pendek ini ditulis Rendra pada tahun 1950-1960 an jadi, latar sosial, budaya maupun bahasanya ya disesuaikan pada jaman itu. Berasa lagi time travel, yang paling saya suka sih bahasanya. rapi dan manis. Well, didorong rasa penasaran pakai banget saya pun membaca kumcer ini dalam waktu yang singkat. Ada 13 cerita pendek dengan tema beragam. Tetapi I don't know why hanya beberapa cerpen yang meleka...